Tanggal 25 Januari merupakan peringatan Hari Gizi Nasional(HGN). Dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) ke-64 tahun 2024, kementerian kesehatan(Kemenkes) mengusung tema ‘MP-ASI Kaya Protein Hewani Cegah Stunting’ dengan slogan ‘MP-ASI berkualitas untuk Generasi Emas’. Telah kita ketahui bersama bahwa stunting merupakan sebuah kondisi dimana tinggi badan seseorang ternyata lebih pendek dari tinggi badan orang lain pada umumnya (yang seusia). Pada keputusan menteri kesehatan Indonesia tentang pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana stunting tahun 2022 menyebutkan stunting merupakan salah satu permasalahan gizi utama pada balita di Indonesia yang belum teratasi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan prevalensi balita dengan status pendek dan sangat pendek di Indonesia adalah 37,2% pada tahun 2013, dan menurun menjadi 30,8% pada tahun 2018. Sedangkan untuk baduta, prevalensi pada tahun 2018 sebesar 29,9% yang mengalami penurunan dari 32.8% pada tahun 2013. Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 di 34 provinsi menunjukkan angka stunting nasional turun dari 27,7% tahun 2019 menjadi 24.4% di tahun 2021. Prevalensi tersebut mengalami penurunan, namun berdasarkan kriteria WHO masih tergolong kategori tinggi (>20%). Menurut WHO terdapat empat faktor langsung yang memengaruhi terjadinya stunting yaitu faktor keluarga dan rumah tangga, ASI, makanan pendamping ASI (MPASI) dan infeksi. Penyebab multifaktorial tersebut berkaitan dengan asupan gizi yang kurang atau kebutuhan gizi yang meningkat.
Stunting selalu diawali dengan kenaikan berat badan yang tidak adekuat (weight faltering). Weight faltering yang tidak ditatalaksana secara optimal akan memperlambat laju pertumbuhan linier karena tubuh berusaha untuk mempertahankan status gizi. Perlambatan pertumbuhan linier ini akan berlanjut menjadi stunting (malnutrisi kronik). Kondisi weight faltering pada bayi dan balita memiliki faktor-faktor potensial sebagai penyebab yaitu adanya asupan kalori yang tidak adekuat, gangguan absorpsi atau meningkatnya metabolisme tubuh akibat penyakit tertentu.
Makanan pendamping ASI memegang peranan penting baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang terhadap kesehatan seorang anak seperti pertumbuhan, infeksi, obesitas, alergi, dan lain lain. Suatu review article memperlihatkan bahwa pemberian makan yang baik termasuk pemberian MPASI pada bayi dapat mencegah 31% kematian balita. Masalah pertumbuhan (growth faltering) dan malnutrisi di negara berkembang terjadi mulai usia 3 bulan dan menetap setelah 2 tahun, sehingga kesempatan untuk memperbaikinya sangat singkat.
Praktek pemberian makan di Indonesia ditandai dengan rendahnya ASI eksklusif, pemberian preleakteal feeding dan pemberian MPASI yang terlalu. Rekomendasi kapan sebaiknya MPASI mulai diberikan banyak berubah dalam separuh abad ini. Pada tahun 1950-an MPASI diberikan sejak usia 2 bulan. Kemudian beralih menjadi 4 bulan dan sejak tahun 2002, WHO menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan.
Setelah 6 bulan, ASI saja tidak mencukupi untuk kebutuhan bayi. Selain energi dan protein, hal yang perlu mendapat perhatian adalah mikronutrien terutama zat besi dan seng. Hingga 4-6 bulan pertama kebutuhan zat besi yang tinggi dicukupi sebagian besar dari cadangan besi yang dibawa saat lahir. Kadar zat besi dalam ASI rendah walaupun mempunyai bioavailabilitas yang tinggi. Oleh karena itu setelah 6 bulan, zat besi didapat dari MPASI. Sumber zat besi yang baik ialah daging merah, yang juga merupakan sumber seng.
Menurut WHO bayi harus mendapat makanan bervariasi untuk memenuhi kebutuhan zat gizi. Berikut beberapa tentang jenis MPASI apa saja yang harus diberikan ; 1. Lauk hewani (protein hewani)seperti daging, ayam, ikan atau telur harus diberikan setiap hari atau sesering mungkin, 2. Kandungan lemak harus cukup, 3. Sayur dan buah kaya vitamin A harus diberikan setiap hari, 4. Hindari pemberian minuman dengan kandungan zat gizi rendah ( contoh : teh, kopi, soda), 5. Jumlah jus buah harus dibatasi sehingga tidak mengurangi asupan makanan lain yang kaya akan zat gizi.
Jadi, setelah mengetahui sedikit tentang MPASI yang berhubungan dengan stunting, mari kita bersama-sama berupaya memberikan gizi yang baik sebagai bagian dari ikhtiar membentuk generasi penerus yang berkualitas dan berkemajuan. Ingat! Cegah stunting itu penting.
Oleh : drg. Winda Susra (Ketua Departemen Kesling PWNA DIY)
