BUKAN ROMANTIS BIASA
Oleh Intarti, S.S., M.A.
(Ketua Departemen Pustaka, Informasi dan Teknologi PWNA DIY 2022-2026)
“Om, mohon desain lagi ya. Berita duka lagi. Tadi Pak Taufik, sekarang istri Beliau, Ibu Fauziyah juga meninggal.”
Meminta dibuatkan desain duka cita untuk hari ini berbeda sekali rasanya. Berat tangan ini mengetik setiap kata. Dada pun sesak.
Kami yakin, banyak warga Muhammadiyah di Jogja juga merasakan hal yang sama. Merasakan sesak karena kehilangan kader yang begitu sangat dicinta. Sepasang warga Muhammadiyah. Ahmad Taufiq Imron dan Ibu Fauziyah Tri Astuti, mantan Direktur Muallimat dan Bendahara MPK Pimpinan Pusat Aisyiyah.
Nabilah Amalia, satu-satunya putri Pak Taufiq dan Bu Fauziyah merupakan sahabat seperjuangan kami di Nasyiatul Aisyiyah Yogyakarta. Sifatnya yang ramah, murah, senyum dan keibuan tidak dia punya begitu saja, tapi buah dari pengasuhan yang luar biasa dari Pak Taufik dan Bu Fauziyah. Ya betul. Mereka berdua luar biasa!

Kita dapat mencontoh romantis yang luar biasa dari keluarga mereka. Romantis yang bukan cuma menunjukkan kemesraan, menunjukkan surprise di ulang tahun pasangan, romantis memberikan coklat dan bunga, romantis melamar pasangan di tempat yang mahal, dan masih banyak lagi romantis yang sifatnya keduniawian. Keluarga ini mempunyai cerita romantis yang berbeda. Romantis yang dalam sekali maknanya. Romantis sehidup sesurga.
Kita dapat mencontoh bagaimana Ibu Fauziyah merawat Pak Taufik yang sudah lama sakit. Merawat dua tahun lamanya suaminya cuci darah, masih aktif di Aisyiyah, dan masih aktif mengajar di Madrasah. Tetap sabar, semua orang memberikan kesaksian bahwa beliau orang yang sabar dan murah senyuman. Bahkan putrinya pun kagum dengan keikhlasan Ibunya saat mendapatkan cobaan.
Pak Taufik, sebelum wafat ingin bertemu dengan istrinya yang juga masih dirawat di PKU Muhammadiyah. Saling meminta maaf. Konon istrinya dalam keadaan sudah tidak sadar, tiba-tiba bisa sadar dan menggapai tangan suaminya. Pertemuan yang sangat indah. Bahkan scene yang terjadi lebih mengharukan daripada cerita cinta di film mana pun yang pernah ada. Sebelum beliau wafat pun dalam gelisah masih ingat dan menyebut istri yang dicintainya.
Nabilah dan suaminya. Pasangan muda yang bisa menjadi contoh pasangan muda lainnya. Mendampingi orang tua yang sakit itu tidak mudah. Mereka begitu tekun mendampingi orang tua hingga akhir hayatnya. Bolak-balik Rumah Sakit. Seringkali saya mengungkapkan kekaguman kepada Nabilah, dia hanya menjawab “Bismillah.. pokoknya dijalani semuanya, apa yang Allah takdirkan…”
Masya Allah.
Mas Tyo panggilan suami Nabilah, support system utama. Berjiwa besar dan all out untuk keluarga. Di kala istrinya harus wira-wiri mengurus orang tuanya, dia siap sedia menyelesaikan dan menggantikan tugas istrinya. Pun saat Nabilah aktif di Nasyiah, laki-laki ini yang berada di belakangnya.
Di tengah maraknya berita perceraian artis, perselisihan, bahkan perselingkuhan, ternyata kita masih punya pasangan yang bisa kita jadikan teladan. Romantis dan cinta mereka buktikan hingga akhirnya mereka “dipanggil” Sang Pencipta. Kepulangan yang membuat iri banyak orang. Dikuburkan pula dalam satu liang lahat. Mereka masih saja romantis saat menuju keabadian.
Selamat jalan Ayahanda dan Ibunda…
Semoga sesurga…