Site icon Nasyiah DIY

Diskusi “Islam dan Kebudayaan yang Berperadaban” yang Disampaikan dalam Acara Halal bi Halal Bersama GKR Hemas

halal bil halal bersama GKR hemas

Kegiatan halal bi halal yang mengundang seluruh komponen organisasi perempuan muslim se-DIY dan generasi milenial dilaksanakan oleh GKR Hemas Center dengan pemateri utama Bapak Dr. (H.C) K.H. Husein Muhammad pada tanggal 6 Mei 2023 bertempat di Ruang Serbaguna DPD RI DIY.  PWNA DIY menghadiri acara tersebut yang diwakili oleh Yunda Ella Yussy Dwi Astusi, Yunda Desinta Nur Rahmania, dan Yunda Rheviana Dian Miranti. Acara tersebut diawali dengan sambutan oleh GKR Hemas yang merupakan anggota DPD RI perwakilan DIY. Beliau menyampaikan bahwa Islam dan agama lain mengajarkan umatnya untuk berperilaku toleransi terhadap sesama. Meskipun tahun ini Hari Raya Idul Fitri perayaannya dilaksanakan pada hari yang berbeda, bukan berarti ukhuwah sesama muslim menjadi renggang. Namun dengan perbedaan tersebut umat Islam dapat belajar untuk saling menghormati dan toleransi terhadap mereka yang memiliki perbedaan pendapat. Islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamin yang selaras dengan bahasa konstitusi bahwa perbedaan agama, suku, bahasa, budaya, ras, dan lain sebgaianya merupakan cerminan dari Bhinneka Tunggal Ika. GKR Hemas juga berpesan sebagai umat muslim agar senantiasa berjuang untuk kemajuan peradaban Islam, perempuan, dan seluruh elemen masyarakat sekitar.

Acara yang kedua dilanjutkan dengan diskusi bersama Dr. (H.C) K.H. Husein Muhammad yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Dar al Fikr Arjowinangun Cirebon sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan/Wantim Kongres Ulama Perempuan Indonesia, dengan tema “Islam dan Kebudayaan yang Berperadaban”. Dalam diskusi tersebut ada 2 isu yang disampaikan, yaitu halal bihalal dan peradaban perempuan. Isu pertama yaitu tradisi halal bihalal. Halal bihalal merupakan forum melepaskan segala kepentinan ego, saling memaafkan dan menjalin silaturahim, serta menghubungkan kembai kasih diantara sesame umat manusia. Tradisi ini pertama kali dicetuskan oleh K.H. Wahab Hasbullah dengan mengundang seluruh tokoh politik untuk saling memaafkan dan melepaskan ego masing-masing dalam rangka menjalin rasa persatuan dan kesatuan Indonesia. Beliau juga mengatakan bahwa halal bihalal merupakan Islam Nusantara yang merupakan esensi dari Islam pribumi. Isu yang kedua mengenai peradaban perempuan. Perempuan adalah sosok ibu, sehingga perempuan merupakan penentu masa depan bangsa. Perempuan harus sehat secara fisik dan mental, cerdas intelektual serta finansial karena proses pembentukan manusia diukir oleh perempuan. Tujuan manusia diciptakan selain untuk beribadah adalah untuk mempraktekan ilmu pengetahuan dan menegakkan keadilan bukan hanya sekedar memperoleh kebahagiaan semata.

Dalam diskusi tersebut terdapat 8 penanya perwakilan dari masing-masing organisasi perempuan muslim di DIY diantaranya dari PDNA Gunung Kidul, PDA Bantul, Komunitas Milenial Berbudaya, Kowani, PPPA Sleman, dan IMM Yogyakarta. Dari diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa patriartki di Indonesia masih kuat dikarenakan masih banyak yang belum memahami ayat-ayat tentang perempuan. Sehingga pemahaman teks terhadap agama masih menjadi tugas besar bagi kita. Tugas kita sebagai aktivis organisasi muslim adalah meluruskan kembali hukum keagamaan dengan melihat permasalahan yang terjadi saat ini. Beliau juga menambahkan bahwa pengawasan orangtua terhadap generasi muda perlu saling bekerja sama dengan sekolah-sekolah dan komunitas yang peduli terhadap anak-anak dan generasi milenial agar tercipta generasi yang memajukan peradaban bangsa. Setelah forum diskusi, kegiatan tersebut diakhiri dengan foto bersama dan saling berjabat tangan.

Exit mobile version