Kupanggil mereka dengan sebutan Bapak dan Ibu, lewat merekalah aku bisa melihat dunia ini. Sosok ibu yang rela bekerja keras demi keluarga, membantu agar perekonomian keluarga tetap berjalan. Ibu bukanlah sosok yang hanya mau berpangku tangan menunggu rezeki itu datang namun akan ia kejar sampai mendapatkannya. Bekerja tak menyurutkan niatnya untuk tetap merawat dan menata rumah, bahkan cenderung menjadi yang paling bersemangat untuk merawat dan menata rumah. Apakah kecenderungan menata dan merawat merupakan perwujudan dari sifatnya yang selalu welas asih kepada setiap anggota keluarga? Bisa jadi iya, karena apa yang kita lakukan sejatinya adalah apa yang ada dalam diri kita.
Kalau ibu adalah sosok yang cenderung merawat dan menata maka bapak akan memiliki kecenderungan yang lain. Bapak adalah sosok yang tidak ingin terlihat lemah di depan mata anggota keluarganya. Di tengah sakit yang harus ia rasakan disepanjang hidupnya, ia terus bekerja keras dari bertani, menjaga kebersihan sekolah hingga bekerja di malam hari pada suatu usaha minuman kemasan. Sakit di kakinya memang tak ingin dijadikan alasan untuknya berpasarah pada keadaan. Sakit dikakinya tak menjadi alasan untuk tidak menghantarkan anak-anaknya pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Sosok perempuan lain selain Ibu yang menjadi bagian dari hidup ini adalah seorang adik perempuan yang berjarak tiga setengah tahun. Adik yang dulu diwaktu kecil tak sedekat saat ini namun seiring berjalannya waktu ternyata mampu mendekatkan satu sama lain. Ia adalah perempuan yang lebih jago teknologi dibandingkan diri ini namun tak lebih mampu dalam hal membaca buku berjam-jam lamanya dibanding diri ini. Begitulah ia dan diri ini saling memiliki perbedaan namun tetap memiliki persamaan. Ia pula yang menguatkan dikala diri ini lemah dan ia pula yang menampung asa dan cerita dari diri ini.
Begitulah diri ini berada, bertumbuh, dan berkembang. Berada, bertumbuh, dan berkembang pada keluarga sederhana di sebuah desa yang jauh dari pusat kota. Berada, bertumbuh, dan berkembang pada keluarga yang menekankan pentingnya sikap tanggungjawab. Berada, bertumbuh, dan berkembang pada keluarga yang mau menerima perbedaan.
Lewat nilai tanggungjawab itu pula diri ini mengenal organisasi di luar rumah. Organisasi sekolah, kampung, kampus, lembaga, dan organisasi yang berbasis keagamaan pernah diri ini ikuti. Organisasi keagamaan bukanlah hal baru dimasyarakat namun menjadi hal baru bagi diri ini, mengetahuinya bisa dibilang sudah cukup lama namun mengenalnya dengan penuh kesadaran adalah hal baru bagi diri ini.
Bermula dari keikutsertaan pada kegiatan remaja masjid mengantarkan diri ini untuk mengenal dengan FORMAMUHA yang banyak orang bilang sebagai Forum Remaja Muhammadiyah di lingkup Sitimulyo. Lewat Formamuha itu pulalah aku mengenal beberapa teman yang akhirnya mengantarkanku untuk mengenal organisasi perempuan muda islam. Organisasi itu dipangggil sebagai Nasyiatul ‘Aisyiyah.
NA adalah nama bekennya, nama yang mudah untuk dipanggil dan Yunda adalah kata sapaan yang digunakan bukan mba atau bu tapi Yunda. Memasuki NA dikala itu merupakan suatu ketidaksengajaan karena diri ini masih di tahun pertama perkuliahan. Memasuki NA hanya sebuah keikutsertaan tanpa tahu tujuan bahkan tanpa mengenalnya terlebih dahulu. Namun tak mengapa karena ternyata waktu pulalah yang mengenalkan kami.
Memang benar waktu pulalah yang akhirnya membuat diri ini dapat semakin mengenal Nasyiah. Bagi diri ini Nasyiah adalah perwujudan dari sosok perempuan yang ingin senantiasa tumbuh dalam kesadaran. Bukan hanya ingin terus belajar tanpa tahu akan dipakai untuk apa ilmu itu. Bukan hanya ingin terus berjumpa tanpa memaknai setiap perjumpaan.
Bertumbuh dengan penuh kesadaran memaksa diri ini untuk terus mau belajar dan mempelajari Nasyiah. Mempelajarinya membuat diri ini menjadi lebih mengenal dekat dengan Nasyiah. Tergabung dalam Nasyiah membuat diri ini mempelajari bahwa setiap perempuan memiliki potensi, potensi itu akan menjadi bermanfaat bagi diri dan lingkungan ketika dikembangkan dan menemukan tempat berkembang yang tepat. Belajar tak hanya berhenti pada pengetahuan yang terkumpul pada pikiran namun haruslah dipraktikan dalam bentuk perbuatan begitulah hakikat pembelajar.
Kalau diri ini menengok Nasyiah, bisa dilihat bahwa yang tergabung adalah orang-orang pembelajar. Orang yang mau belajar dan mau mempraktikan ilmunya walaupun mereka adalah perempuan, karena bagi Nasyiah jenis kelamin bukan penghalang untuk terus belajar dan beramal baik. Itu pulalah yang membuat diri ini memilih Nasyiah sebagai jalan ninja untuk terus bertumbuh dalam kesadaran. Belajar untuk terus bertumbuh dan beramal untuk terus berkesadaran.
“Allah will raise those who have believed among you and those who were given knowladge, by degress. And Allah is acquainted with what you do” –Qur’an, 58: 11-
Begitulah Allah berfirman bahwa Allah akan meningkatkan beberapa derajat orang yang berilmu, bukankah ini suatu penegasan dari Allah agar umat manusia terkhususnya umat islam untuk senantiasa belajar. Ayat ini pulalah yang membuat diri ini merasa bahwa diri ini harus terus belajar dimanapun itu dan pada siapapun itu. Ayat pula inilah yang membuat diri ini ingin bersama Nasyiah untuk terus menyemangati perempuan untuk terus belajar.
Menjadi pembelajar adalah profesi yang seharusnya seumur hidup tidak berpatok pada tingkat pendidikan, tingkat pendidikan adalah penghantar bukan tujuan akhir. Kalaupuan saat ini masih menjadi mahasiswa tentu wisuda bukanlah akhir dari proses belajar karena belajar tidak dibatasi oleh wisuda. Namun bukan berarti lalu tidak mau menempuh jalur pendidikan, itu akan menjadi tidak tepat. Lewat jalur pendidikan itu pulalah kita akan bertemu dengan mereka yang berilmu.
Menempuh jalur pendidikan adalah suatu fase yang sedang dijalani diri ini, jalur pendidikan perguruan tinggi strata satu lebih tepatnya. Menjadi mahasiswa yang memilih psikologi sebagai tempatnya untuk lebih memahami diri dan orang sekitar. Belajar berempati tanpa larut dalam emosi orang lain. Belajar mendengarkan tanpa memberikan label pada orang lain. Belajar untuk mendapat insight dari dari kejadian. Belajar untuk memahami bahwa manusia adalah perwujudan yang diciptakan dengan hal yang sepasang, ketika manusia diciptakan memiliki emosi marah maka ada emosi kasih sayang.
Begitulah diri ini masih menjadi pembelajar pada sebuah kampus belum berprofesi lain, seperti profesi psikolog, dokter, akuntan ataupun wartawan. Tapi tak mengapa ini adalah suatu fase yang harus dilalui dengan penuh tanggung jawab. Ini adalah suatu fase untuk terus mau dan bersedia belajar, bertumbuh dalam kesadaran.
Berperan sebagai mahasiswa psikologi yang terjun dalam Nasyiah adalah suatu kesempatan yang luar biasa. Dapat memahami dinamika individu ataupun organisasi yang mungkin tidak kita sadari, namun bagi diri ini bukan soal kontribusi yang sudah diberikan diri ini pada Nasyiah melainkan bagaimana diri ini terus mau belajar bertumbuh dalam kesadaran bersama dengan Nasyiah. Belajar bertumbuh dalam kesadaran secara bersama-bersama, kelak yang akan membuat diri pada setiap individu dalam Nasyiah dapat berkontribusi sesuai dengan potensi mereka masing-masing.
Ber-Nasyiah adalah suatu perjalanan yang pada akhirnya akan membuat setiap orang memiliki harapan pada Nasyiah. Tidak mengapa karena harapan adalah mimpi yang bisa diperjuangkan. Menjadi bagian dari Nasyiah yang terus berjuang untuk menyadarkan dan mengajak perempuan agar terus menjadi pembelajar adalah harapan diri ini pada Nasyiah.

