Batasi Sosial Media, Dirimu kan Bahagia (Part 2)

Sosial media membuat kita gampang membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain karena masuk terlalu dalam mempelajari  kehidupan orang lain. Dengan adanya sosial media kadang kita tidak fokus untuk meningkatkan kualitas diri kita sendiri. Kita malah fokus dengan hidup orang lain. Bahkan parahnya kadang kita emosi tanpa tahu sebab yang pasti. Scroll-scroll status teman sambil bergumam, “Asyem, mobilnya udah Pajero.” Scroll-scroll teman yang lainnya. Apa aja yang sudah dicapai mereka. Sejam, dua jam cuma melakukan itu. Lalu ganti kepo teman yang, ” Ini orang kok gak pernah foto bareng istrinya jangan-jangan cerai, lalu lanjut scroll sampai bawah gara-gara penasaran, sejam, dua jam, tiga jam, gak ketemu. Humf. Bayangkan, sudah 3 jam hilang waktu. Yang kita dapatkan? mata capek, iri hati, cemas, dan jelas tidak produktif.

Itu baru kehidupan teman kita, belum lagi  ngurusin hidup artis idola, atau selebgram yang disuka. Tiba-tiba kita jadi sok tahu dengan kehidupan mereka. Soal asmara mereka, menjodoh-jodohkan, tawuran antar fans club dan tawuran shipper, jadi ahli yang mengomentari penampilan mereka, mengomentari keluarga mereka, karir mereka. Mereka dapat popularitas, terus kita dapet apa? Dapat dosa  iya, mereka dapat transferan pahala kita juga iya. Kitanya gigit jari dan waktu terbuang sia-sia.

Setelah kepo kehidupan mereka, kita jadi iri dengan kehidupannya. Merasa jadi orang paling menderita di dunia, karena belum pernah menginjakkan kaki ke Eropa. Padahal artis dikit-dikit pasang foto di sana. Foto-foto seru sambil memakai baju branded, tas branded di bawah menara Eiffel, lalu bercermin kita cuma di rumah momong sambil pakai daster. Piknik aja, ada yang sewa satu pesawat untuk membawa kerabat dekat, kawan, dan keluarga. Lihat postingan artis ulang tahun makan malam romantis, diberi hadian mini cooper dan cincin yang manis. Kita boro-boro makan malam romantis, pulang dibawain brownies aja sudah terharu sampai nangis.

Duh suamiku kok gak semanis itu to?  Kok gak seganteng itu? Kok gak sesabar itu sih? Helllo….. Bangun yuk, itu semua di layar kaca, Maaaak. Kita juga tidak tahu aslinya mereka kayak apa kan ya?

Mau dishooting aja mereka ada persiapan, make up, briefing, dan lain sebagainya. Jangan dibandingin sama suami kita yang bangun tidur masih ileran yang tiba-tiba udah kita ributin untuk membantu kerjaan rumah. Masih bau kecut keringat pulang dari kerja udah dihujani omelan dan ributnya anak-anak. Percayalah, banyak membandingkan itu membuat kita sakit, tapi dibandingkan itu jauh lebih sakit. Syukuri yang kita punya, toh mereka juga tidak protes punya kita dalam hidup mereka.

Masalah tidak sampai disini. Pernah dengar banyak perselingkuhan terjadi saat reuni? Walaupun bukan reuni, tapi masa di rumah aja ini membuat kita menjadi semakin banyak menghabiskan waktu mengutak-ngatik sosial media. Menjadi fokus kepada orang-orang di dunia maya. Apakah hal ini bisa membuat berseminya cinta lama? Mungkin saja, karena di rumah penuh dengan kejenuhan, maka bersosial media menjadi pelampiasan.

Belum lagi banyak orang yang menjadikan sosial media sebagai tempat curhat dan mencari perhatian. Masalahnya pun macam-macam, mulai dari masalah ekonomi hingga permasalahan dengan pasangan. Hal ini menjadikan pintu masuk perselingkuhan ataupun masalah rumah tangga jadi runyam. Banyak suami dan istri yang mencari pelarian lewat Facebook dan Instagram. Maka jangan main-main dengan sosial media. Waspadalah! Waspadalah!

Penulis:
Intarti, S.S., M.A.
Ketua Departemen PITD PWNA DIY

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top