Batasi Sosial Media, Dirimu kan Bahagia (Part 1)

Pernah mendengar bahwa ada beberapa selebritis tanah air berhenti menggunakan akun sosial media mereka? Apakah ini hal yang aneh? Apakah ini aib? 

Physical distancing itu penting, tapi social media distancing itu tak kalah penting. Saya sendiri juga pernah mengalami. Ketika mata ini banyak memandangi gadget dan pikiran ini berselancar di sosial media, ketika jari ini mulai mengutak-atik gadget yang ada di tangan, di saat itulah, saya merasa jadi manusia paling tidak produktif di dunia!

Mata terasa sangat kelelahan kadang malah buram. Kepala terasa penuh dengan keruwetan yang mengakibatkan terasa pening seharian. Hati juga dipenuhi dengan penyakit hati dan kedengkian. Badan pegal karena seharian hanya rebahan. Kerjaan rumah tak dikerjakan. Hubungan suami istri jauh tak ada lagi kehangatan, anak sering dicampakkan, ibadah sering ditunda bahkan bisa juga ditinggalkan.

Lalu apakah benar dengan meninggalkan aktivitas sosial media hidup bisa lebih produktif?

Jelas iya. Ada beberapa selebritis yang sudah membuktikannya. Mereka lebih bisa menghargai hidup mereka dan keluarga. Mereka jadi lebih tenang karena tidak mendengar omongan orang. Tidak punya obsesi untuk memperlihatkan pencapaian diri. Bisa menekan jiwa kompetisi karena sudah fokus menyibukkan diri.

Mungkin tidak harus menonaktifkan semua sosial media. Tapi mari menggunakan sosial media seperlunya saja. Bahkan kalau bisa kita punya komitmen bahwa menggunakan sosial media harus ada batasan waktunya, batasan platform apa yang sebaiknya kita buka, dan punya tujuan yang berfaedah. Bila tidak demikian, bukan kita yang main sosial media, tapi kita yang dipermainkan sosial media. Kurang cukup waktu dan cemas.

Pernah mendengar konten Youtube Marisa sang presenter kondang? Iya, beliau melakukan puasa medsos. Yaitu istirahat total tidak menggunakan media sosial dalam jangka waktu yang beliau  tentukan. Karena selama ini beliau merasa sudah kecanduan sosial media. Cemas, insecure, tak sabar, sulit tidur, sulit fokus, dan gangguan lainnya. Akhirnya, beliau memberanikan diri melakukan puasa sosial media.  Dia bercerita rasanya pertama kali lepas medsos. Seperti seorang pecandu yang lepas dari candunya. Minggu pertama galau, jarinya gatal gak buka medsos. 

Pikirannya masih memikirkan sosial media yang beliau punya. Minggu kedua sudah mulai agak mendingan, sudah bisa melupakan sosial media dan justru merasa berdosa bila membuka sosial media. Waktunya diisi dengan baca buku, menulis buku harian, ikut komunitas, pokoknya sesuatu yang bisa membuat lupa dengan sosial media. Re-evaluasi hubungan dengan medsos, beliau menyebutnya.

Benar juga, bila kita mendengar, sosial media mendekatkan yang jauh, tapi menjadikan jauh yang dekat. Contohnya saja saya, kalau sudah di depan HP dan instagraman, pasti sudah lupa ada suami di depan saya yang sudah pasang wajah kelaparan.  Hahaha. Anak juga kadang sampai tak diperhatikan. Tidak jauh-jauh, bahkan kami sendiri pun punya pengalaman, kadang cuek terhadap anak yang lagi menghujani kami dengan banyak pertanyaan. Kadang kami merasa jahat sekali karena berakhir dengan memberi jawaban “Ssssst, jangan tanya terus.”

Hal itu berkebalikan dengan orang yang berinteraksi dengan kita di sosial media. Jelas mereka jauh dari kita. Beda RT, RW, desa, kota bahkan beda negara. Tapi dengan kata-kata manis kita menyapanya. Hai sahabat apa kabar? Semangat ya! Wah kangen, kapan ketemu? Baik-baik ya di sana! Jaga kesehatan selalu! Dan sebagainya. Yang di dekat kita? Gigit jari dan dapatnya bentakkan. Kasihan.

Sulit memang, tapi kita mungkin bisa memulainya dari hal-hal kecil. Sepakat tidak memakai gadget di depan anak misalnya. Ada waktu-waktu tertentu memakai dan istirahat gadget. Bila masuk kamar gadget tidak boleh dibawa masuk dan kesepakatan-kesepakatan lainnya. Yang jelas, apapun itu memang sebaiknya  tidak berlebihan. Apalagi sosmed-an berlebihan juga berbanding lurus dengan gaya hidup rebahan yang dapat meningkatkan nafsu makan dan berujung kelebihan berat badan. Eh, ups.

Penulis:
Intarti, S.S., M.A.
Ketua Departemen PITD PWNA DIY

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top