Perempuan Sebagai Pelaku Terorisme: Disampaikan Melalui Forum Perempuan Teladan, Optimis, dan Produktif FKPT DIY

Kegiatan pelibatan masyarakat dalam pencegahan radikalisme dan terorisme dilaksanakan oleh FKPT DIY tanggal 30 Maret 2023 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. FKPT DIY merupakan forum yang dibawahi oleh BNPT RI. PWNA DIY menghadiri acara tersebut yang diwakili oleh Yunda Rina Lusiana dan Yunda Rheviana Dian Miranti. Acara tersebut diawali dengan forum diskusi yang dinarasumberi oleh tiga pemateri yaitu, Mayjen TNI Nisan Setiadi, SE merupakan Deputi Bidang Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi, Dina Y Sulaeman merupakan Dosen Hubungan Internasional UNDIP, dan Sunadi merupakan Satgaswil DIY. Menurut pendapat Mayjen TNI Nisan Setiadi,SE, perempuan dimanfaatkan menjadi pelaku terorisme karena perempuan dianggap penganut yang loyal dan patuh serta sifatnya yang lemah lembut dapat dijadikan siasat oleh perempuan. “Perempuan itu sulit percaya, dibanding laki-laki. Sekalinya perempuan itu percaya, dia akan sangat loyal dan berjuang pada organisasi/paham tersebut” tambahnya. Beliau juga mencontohkan kasus bom bunuh diri yang dilakukan oleh perempuan, peran perempuan dalam keluarga sangat mempengaruhi ketahanan dalam keluarga. Peran perempuan dalam tindak terorisme multifungsi diantaranya sebagai pendidik, agen perubahan, pendakwah, pengumpul dana, perekrut, penyedia logistik kurir, penghubung rahasia pengikut, dan pendamping setia suami sebagai pelaku, hingga pengantin atau pelaku bom bunuh diri.

Materi kedua yang disampaikan oleh Dina Y Sulaeman, bahwa perempuan dapat terjerumus dalam ideologi terorisme bermula dari berita hoax yang disebar melalui internet ataupun media sosial. Menurut data yang beliau peroleh, setiap harinya ada sekitar 200.000 tweet pro-ISIS dan mereka mampu merekrut 40.000 orang untuk bergabung sebagai kader maupun simpatisan dari 110 negara di dunia. “Faktanya mengapa orang-orang ini bisa percaya meskipun berpendidikan sekalipun, karena berita hoax yang dilampiri dengan gambar beredar di twitter dan media sosial akan membangkitkan simpati dan kemarahan, selanjutnya karena rasa penasaran dan pemahaman agama yang minim orang tersebut akan cenderung mengambil langkah-langkah tidak rasional” tambahnya. Menurutnya cara memahami berita hoax adalah dengan dua analisis yaitu digital literasi dan pahami geopolitik. Beliau juga memberikan contoh bahwa pernah ada hoax berupa gambar anak yang kelaparan dan tersebar, setelah diklarifikasi oleh fotografer tersebut, tetap saja berita hoax sangat sulit dihentikan. “Mengapa kelompok tersebut menyebarkan berita dan gambar yang hoax, karena tujuannya agar banyak simpatisan dan orang yang percaya kemudian untuk penggalangan dana, yang mestinya tidak sedikit, bahkan mereka dapat mengumpulkan ber-milyaran rupiah.” tambahnya. Menurutnya dana yang banyak itu akan dijadikan untuk memperkaya diri, pendaan jihadis, rekrutmen jihadis, dan kepentikan politik domestik. Beliau juga berpesan bahwa kesadaran geopolitik sangat penting agar tidak mudah termakan berita hoax. Ketika media sosial sudah dipenuhi dengan berita hoax dan kekerasan, maka cara mengatasinya adalah dengan banyak memberikan konten-konten perdamaian, persaudaraan, cinta tanah air, dan nilai-nilai “rahmatan lil alamin”.

Materi terakhir disampaikan oleh Sunadi, beliau menjelaskan tahapan tindak terorisme bahwa berawal dari pemikiran intoleransi, kemudian pada sikap radikalisme, hingga menjadikan orang tersebut melakukan tindakan terorisme. Beliau juga menambahkan bahwa faktor penyebab perempuan rentan terlibat adalah karena budaya patriarki yang masih kental di masyarakat, sumber informasi dan analisis yang terbatas, serta ekonomi masyarakat. Perempuan memiliki peran kunci dalam pencegahan radikalisme dan terorisme dengan cara memaksimalkan perannya dilingkungan keluarga dan masyarakat, bijak dalam menggunakan media sosial serta bijak dalam menyikapi isu-isu yang beredar, dan mendobrak budaya patriarki. Perempuan berperan sesuai fitrahnya sebagai pendidik utama dalam lingkungan keluarga yang mampu mendeteksi dini radikalisme dan terorisme. Oleh karena itu, melibatkan perempuan dalam penanganan radikalisme dan terorisme juga sangat penting karena perempuan mampu memberikan sumbangsih dalam upaya memperbaiki keadaan sosial masyarakat, terlebih untuk kaumnya sendiri yaitu perempuan.

Setelah forum diskusi besar, kegiatan tersebut diakhiri dengan pendalaman materi dari kasus yang dibahas pada forum grup kecil. Kemudian tiap kelompok melalui perwakilannya mempresentasikan hasil diskusi bersama kelompoknya.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top