Krisis iklim dan ancaman bencana alam yang kian meningkat menuntut kesiapsiagaan disaster management yang tidak hanya cepat, tetapi juga berkeadilan dan inklusif. Menanggapi tantangan tersebut, Tim Psikososial MDMC DIY berkolaborasi dengan LLHPB menyelenggarakan talkshow dalam rangka memperingati bulan pengurangan resiko bencana.
Talkshow bertajuk “Pemenuhan Hak atas Pelayanan Inklusif bagi Kelompok Berisiko dalam Situasi Bencana” yang diadakan di Amphiteater Fakultas Kedokteran UAD, Sabtu (17/10/2026) menjadi ruang diskusi untuk menggali gagasan dan inovasi dalam mewujudkan penanggulangan bencana yang lebih adil, setara, dan ramah bagi semua kalangan.


Sebelum talkshow dimulai, disediakan coffe break dan cek kesehatan gratis bagi peserta talkshow. Cek kesehatan gratis ini merupakan hasil kerjasama antara Tim Psikososial MDMC DIY dengan tim pengabdian masyarakat dosen UNISA Yogyakarta, FK UAD, berserta dengan RS UAD.
Ketua MDMC DIY, Indrayanto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat melahirkan ide-ide baru yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan bagi kelompok berisiko dalam situasi bencana.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Ahmad Faisol, menegaskan pentingnya mengubah cara pandang terhadap kelompok rentan. Pemenuhan hak mereka tidak cukup didasarkan pada rasa kasihan, tetapi harus diwujudkan melalui akses dan pelayanan yang setara.
“Setiap orang berhak mendapatkan perlindungan dan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhannya, termasuk akses terhadap informasi kebencanaan, jalur evakuasi, dan fasilitas pengungsian yang mudah dijangkau,” menjadi salah satu pesan penting dalam pembahasan tersebut.
Rektor Universitas Ahmad Dahlan, Prof. Dr. Muchlas, M.T., juga menyampaikan bahwa setiap individu memiliki kebutuhan dan hambatan yang berbeda ketika menghadapi bencana. Karena itu, penyediaan fasilitas, jalur akses, dan pendampingan perlu disesuaikan agar tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam memperoleh perlindungan.
UAD pun menyatakan kesiapan untuk mendukung upaya peningkatan inklusivitas dalam penanggulangan bencana, sehingga seluruh masyarakat dapat memperoleh pelayanan yang adil dan sesuai dengan kebutuhannya.
Acara ini menghadirkan berbagai narasumber, diantaranya Ninin Karlina (Bidang Jaringan Kerja (Jaker) MDMC PP Muhammadiyah), Ernice Ajawaila (Praktisi Relawan YAKKUM Emergency Unit (YEU)), Muh. Nur Syuhada, S.Psi., M.Psi., Psikolog (Dosen Psikologi UAD).
Beberapa poin penting yang dihasilkan dalam talkshow ini meliputi:
- Bencana tidak seharusnya langsung dianggap sebagai azab atau hukuman Allah. Pemahaman tentang bencana perlu didasarkan pada iman, ilmu pengetahuan, serta kesadaran akan pentingnya ikhtiar dan pencegahan. Nilai-nilai agama perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam pelayanan kemanusiaan. Mulai dari mengutamakan keselamatan, melakukan evakuasi sesuai prosedur, memberikan bantuan tanpa diskriminasi, hingga menghormati martabat para penyintas.
- Pemenuhan hak atas pelayanan inklusif bagi kelompok berisiko tinggi masih menghadapi hambatan dalam mengakses bantuan. Selain itu, kelompok berisiko tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan. Mereka perlu dilibatkan secara langsung dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.
- Masyarakat yang tangguh tidak hanya ditentukan oleh kesiapan fisik dan infrastruktur, tetapi juga oleh kekuatan sosial, psikologis, budaya, serta pengetahuan dan keterampilan masyarakat.
- Relawan juga memiliki peran strategis, bukan hanya sebagai pemberi bantuan, tetapi sebagai pendengar, penghubung, fasilitator partisipasi, pendamping pembelajaran, serta penjaga etika dan keselamatan.
- Penanggulangan bencana bukan hanya tentang menyelamatkan sebanyak mungkin orang, tetapi juga memastikan setiap orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk selamat, memperoleh bantuan, dan terlibat dalam proses pemulihan.
- Membangun masyarakat yang tangguh dan inklusif membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga kemanusiaan, perguruan tinggi, relawan, keluarga, hingga masyarakat itu sendiri.
